jpnn.com, JAKARTA - Oleh: Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti
Saya sering membaca tulisan-tulisan Ray Dalio - buku-bukunya yang tebal dan tenang, esai-esainya yang dingin, hingga tulisan panjangnya yang belakangan dia unggah di media sosial X.
Dari sana saya belajar satu hal: Dalio tidak menulis untuk menghibur, dia menulis untuk membongkar.
Dia tidak meramal masa depan, melainkan membuka pola masa lalu yang berulang dengan wajah berbeda.
Oleh karena itu, ketepatan gagasan dan prediksinya terasa bukan seperti kebetulan, melainkan akibat dari kesetiaan membaca sejarah sebagai siklus - bukan sebagai kisah heroik yang selesai.
Dalam buku dan tulisannya, Dalio memberi arah yang melampaui ekonomi. Dia berbicara tentang peradaban: bagaimana negara bangkit ketika mampu menyeimbangkan kekuatan dan keadilan; bagaimana dia runtuh ketika ketimpangan dibiarkan, legitimasi menguap, dan rakyat merasa hidup di sistem yang bukan milik mereka.
Ekonomi, dalam kerangka Dalio, hanyalah gejala. Penyebab sejatinya adalah internal order - atau ketiadaannya.
Tulisan panjang Dalio yang baru-baru ini saya baca - yang juga sempat saya bagikan - menyatakan dengan lugas: tatanan dunia pasca-1945 telah runtuh.

7 hours ago
1





















































