jpnn.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa 94 warga yang meninggal dunia di pengungsian pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT).
BNPB menyebut mereka merupakan kelompok rentan, terutama lanjut usia (lansia), yang terindikasi memiliki penyakit kronis.
Penyebab wafatnya warga terdampak tersebut bukan akibat trauma fisik langsung, maupun reruntuhan bangunan akibat gempa.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan penjelasan tersebut, disampaikan berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terpadu antara BNPB dan Kementerian Kesehatan.
Berdasarkan hasil verifikasi tersebut, tim medis menyimpulkan bahwa sebagian besar korban meninggal dunia di pengungsian, merupakan kelompok lansia dengan komplikasi penyakit kronis yang telah diderita sebelumnya, seperti stroke dan diabetes melitus.
“Berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terpadu antara BNPB dengan Kementerian Kesehatan di tujuh kabupaten terdampak, kami meluruskan bahwa 94 warga tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung atau reruntuhan bangunan akibat gempa bumi,” ucap Berton, pada Kamis (17/9).
Dia menegaskan pemerintah telah memberikan penanganan medis secara maksimal, melalui berbagai fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu sejak gempa terjadi pada 15 Agustus lalu.
Sejak hari pertama pascagempa, kata dia, BNPB telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere.

1 day ago
3




















































