jpnn.com, JAKARTA - PT Andalan Artha Primanusa, perusahaan kontraktor pertambangan- berkomitmen untuk menjaga kualitas operasional serta mempererat kemitraan strategis.
Selama delapan tahun berdiri, Andalan fokus pada penyediaan solusi end-to-end, mulai dari fase eksplorasi, produksi, hingga tahap reklamasi.
Operasionalnya tersebar di wilayah strategis (multi-site), mencakup Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Halmahera Timur.
Jangkauan ini mendapat dukungan kemitraan strategis dengan entitas terkemuka seperti Grup Harum Energy, Bukit Asam, dan Grup Petrindo.
"Di industri pertambangan, yang paling menentukan bukan hanya resource, tapi konsistensi eksekusi di lapangan. Karena itu, peran kontraktor menjadi semakin penting dalam menjaga produktivitas dan efisiensi operasional," ujar Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine.
Gahari yakin prospek industri pertambangan ke depan akan tetap kuat.
Proyeksi untuk energi konvensional tetap stabil di tengah percepatan program hilirisasi nasional, dengan tingkat pertumbuhan per tahun (CAGR) sekitar 8%, sehingga total produksi nikel global diperkirakan mencapai 5,0 juta metrik ton pada 2035.
Selain unggul di sektor hulu, Indonesia juga tengah memimpin industri hilirisasi dengan penguasaan 45% pada pangsa pengolahan (refining) nikel global.

1 hour ago
3




















































