jpnn.com, JAKARTA - Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho mengatakan pengelolaan arus kendaraan pada saat Operasi Ketupat 2026 tidak hanya berdasarkan prediksi melainkan dengan parameter yang ada.
Agus menyebut penerapan predictive traffic policing hingga adaptive driver management menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan arus mudik dan balik 2026.
"Dengan predictive traffic policing, kami bisa menentukan kapan harus menerapkan contraflow, one way, hingga one way nasional. Semua berdasarkan parameter yang terukur, sehingga pergerakan kendaraan bisa diprioritaskan dengan baik,” kata Kakorlantas.
"Kai sudah menggunakan adaptive driver management termasuk juga kolaborasi dalam rangka bagaimana mengamankan di salah satu sektor contohnya di pelabuhan penyeberangan. Bagaimana kami merencanakan pengamanan di tol dengan parameter keputusan manajemen rekayasa lalu lintas baik itu arus mudik dan arus balik," sambungnya.
Perwira tinggi Polri itu mengatakan pelaksanaan mudik tahun ini tercatat terjadi peningkatan signifikan jumlah pemudik. Namun, berkat strategi tersebut, arus lalu lintas tetap terjaga lancar. Bahkan, angka kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan.
“Alhamdulillah, angka fatalitas korban meninggal dunia secara nasional turun hingga 31 persen, dan peristiwa kecelakaan juga menurun. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan lalu lintas berjalan efektif,” ungkap dia.
Selain teknologi dan manajemen lalu lintas, keberhasilan Operasi Ketupat 2026 juga didukung oleh kolaborasi lintas sektor. Korlantas Polri bekerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, serta berbagai stakeholder dalam memastikan perjalanan masyarakat berjalan aman dan nyaman.
Kebijakan pendukung seperti pembatasan kendaraan sumbu tiga melalui Surat Keputusan Bersama (SKB), penerapan Work From Anywhere atau WFA, hingga program mudik gratis turut membantu mengurai kepadatan arus sejak awal.

4 hours ago
3





















































