jpnn.com, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan CNG (Compressed Natural Gas atau Gas Alam Terkompresi) kemungkinan menggantikan LPG (Liquefied Petroleum Gas).
Bahlil mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 75 hingga 80 persen LPG.
Terlebih, kebutuhan LPG mencapai 2 hingga 3 juta ton per tahun untuk bahan baku dan kurang lebih sekitar 7 sampai dengan 8 juta ton untuk kebutuhan rumah tangga.
“Persoalannya sekarang adalah ketika gejolak politik seperti ini, untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada, tapi kan kita tergantung pada global. Maka kami merumuskan untuk mencari alternatif lain,” ucap Bahlil di Istana Negara, pada Selasa (5/5).
“CNG adalah salah satu alternatifnya. Nah CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG, sudah ada,” lanjutnya.
Walau begitu, CNG saat ini masih dalam ukuran 10 hingga 20 kilogram. Pemerintah disebut masih coba memodifikasi ke ukuran 3 kilogram.
“Untuk yang 3 kilogram, memang tabungnya masih dilakukan uji coba, karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200-250 bar. Nah, ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi,” kata dia.
Ketua Umum Partai Golkar itu menyebutkan dalam dua hingga tiga bulan ke depan akan didapatkan hasil uji coba untuk CNG ukuran 3 kilogram.

22 hours ago
6




















































