jpnn.com, JAKARTA - Pengamat pertanian Khudori mengatakan sebagian produsen beras mulai mengalihkan produksinya ke beras fortifikasi, karena kenaikan harga gabah.
“HET (harga eceran tertinggi, red) pada beras medium dan premium naik,” kata Khudori di Jakarta, Minggu (16/8).
Menurut Khudori, harga gabah di tingkat petani saat ini telah melampaui Rp 8.000 per kilogram, jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat biaya produksi beras meningkat, sementara produsen tetap menghadapi batasan HET ketika menjual beras medium dan premium di pasar.
“HET disusun dengan asumsi harga gabah tidak jauh dari HPP. Ketika harga gabah jauh di atas HPP, HET beras bakal terlampaui,” kata Khudori
Khudori mengatakan tekanan tersebut mendorong sebagian produsen mencari ruang usaha melalui produksi beras khusus, termasuk beras fortifikasi yang tidak dikenakan HET seperti beras medium dan premium.
Meski demikian, di mengatakan produksi beras fortifikasi yang mulai banyak ditemui di ritel modern dalam dua hingga tiga bulan terakhir, sehingga tidak serta-merta menunjukkan bahwa produsen beralih sepenuhnya dari beras premium.
Beras fortifikasi merupakan salah satu dari sembilan kategori beras khusus berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023.

4 hours ago
3



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5178598/original/058171600_1743354239-Lucas_Frigeri_perpanjang_kontrak_bersama_Arema_1_.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562206/original/086517200_1776814820-1000840473.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975812/original/006754600_1729569212-10.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5296325/original/012442900_1753573688-Launching_Persijap_Jepara-1.jpg)

