jpnn.com, BALI - Bali Animal Welfare Association (BAWA) bersama PT Boehringer Ingelheim melakukan edukasi pencegahan rabies ke sejumlah sekolah di Pulau Dewata.
Hal itu untuk meminimalisir ancaman rabies di Pulau Bali yang masih berada pada level yang mengkhawatirkan.
"Kami berharap anak-anak tidak hanya paham cara mencegah rabies, tapi juga tumbuh dengan rasa sayang dan kepedulian terhadap hewan," kata Event & Communication Coordinator BAWA, Cynthia, Minggu (11/1).
Dia menyebutkan, program Sustainable Development for Generation (SD4G) Stop Rabies Education, digelar ke sejumlah sekolah. Wilayah yang menjadi sasaran merupakan lokasi yang memiliki tingkat kejadian infeksi rabies paling tinggi.
Untuk tahun kemarin, program yang berlangsung sejak Juli hingga November 2025 tersebut berhasil melampaui target. Dari target awal 10 ribu peserta, program ini mampu menjangkau 12.356 siswa Sekolah Dasar (SD) di 85 sekolah yang tersebar di wilayah Tabanan dan Gianyar.
"Anak-anak adalah kelompok paling rentan. Melalui edukasi sejak dini, kita membangun fondasi pencegahan yang lebih kuat," ungkapnya.
Anak-Anak menjadi sasaran utama edukasi karena data World Health Organization (WHO) menunjukkan sebanyak 40% korban rabies di dunia adalah anak-anak. Hal yang sama ditunjukkan di provinsi Bali, di mana angka gigitan hewan penular rabies (GHPR) sangat tinggi.
Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Bali per Juli 2025 ada 34.845 kasus gigitan yang dilaporkan dalam kurun waktu satu semester. Angka itu mengungkapkan bahwa ada 183 kasus gigitan per hari yang terjadi di seluruh Bali.

8 hours ago
3





















































