Ambil Dahulu, Bayar Kemudian: Kegagalan Mitigasi Gempa Flores

4 hours ago 3

Oleh: Arianto Zany Namang -PP GEKIRA; alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

 Kegagalan Mitigasi Gempa Flores

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Pimpinan Pusat Gerakan Kristiani Indonesia Raya (PP GEKIRA) dan alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Arianto Zany Namang. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Tiga puluh empat tahun silam, tepatnya 12 Desember 1992, Flores diguncang gempa magnitudo 7,8 yang memicu tsunami dengan gelombang tertinggi 26 meter di Riangkroko.

Sedikitnya 2.500 orang tewas atau hilang; 1.490 di antaranya di Maumere, 700 di Pulau Babi, yang sampai harus dikosongkan karena hanya menyisakan 105 dari sekitar 850 penduduknya.

Waktu itu Indonesia bahkan belum memiliki ahli tsunami; riset paling mendalam justru dikerjakan ilmuwan Jepang.

Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WITA, bumi Flores kembali bergolak: magnitudo 7,7, episenter di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Tiga puluh empat tahun setelah tragedi pertama, sejarah nyaris mengulang dirinya sendiri.

Hingga Kamis (20/8/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 71 orang meninggal dunia, 931 korban luka dan lebih dari 5.0000 warga mengungsi, tersebar terutama di Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka.

BMKG mencatat lebih dari 3000 kali gempa susulan. Kepala Bidang Gempabumi dan Tsunami BMKG NTT, Wijayanto, menautkannya langsung dengan trauma lama:

"Dari sejarah yang ada, di tahun 1992 dengan magnitudo 7,5, ini juga luar biasa kerusakannya. Sudah lebih dari 30 tahun, terjadi lagi."

Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WITA, bumi Flores kembali bergolak: magnitudo 7,7, episenter di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|