Aktivitas Tambang di Gunung Slamet Merusak Lingkungan

9 hours ago 3

Aktivitas Tambang di Gunung Slamet Merusak Lingkungan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang membentangkan spanduk penolakan terhadap aktivitas pertambangan di area tambang kaki Gunung Slamet yang masuk wilayah Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (11/1/2026), karena dinilai merusak lingkungan. ANTARA/Sumarwoto

jpnn.com, BANYUMAS - Aktivitas tambang di kaki Gunung Slamet yang masuk wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, merusak lingkungan.

Warga Kecamatan Sumbang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang menolak aktivitas pertambangan.

Warga mendatangi area tambang yang berlokasi di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus.

Kendati demikian aksi tersebut tidak diisi dengan orasi, melainkan pengecekan kondisi terkini lahan yang rusak akibat penambangan pasir hitam dan diakhiri dengan pemasangan spanduk penolakan aktivitas pertambangan di pagar maupun pintu masuk area tambang.

Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang Eka Wisnu mengatakan penolakan tersebut merupakan bentuk solidaritas warga Sumbang terhadap masyarakat Desa Gandatapa yang merasakan langsung dampak aktivitas tambang.

Dalam hal ini, kata dia, aksi penolakan diwujudkan dengan pemasangan spanduk sebagai simbol sikap warga terhadap keberadaan tambang.

Dia menegaskan warga bukan menolak aturan atau kebijakan pemerintah, melainkan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari aktivitas pertambangan terhadap lingkungan dan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

“Kami sifatnya bersolidaritas dengan warga Gandatapa pada khususnya untuk memasang spanduk yang pada intinya adalah menolak tambang, karena dampaknya sangat dirasakan, apalagi untuk generasi kita ke depan. Anak cucu kita semua bisa diwarisi bencana,” katanya.

Aktivitas tambang di kaki Gunung Slamet yang masuk wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, merusak lingkungan.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|