jpnn.com - Ketika nama Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo disebut, sebagian besar masyarakat mengenalnya sebagai ekonom besar Indonesia, guru para teknokrat, dan salah satu arsitek pembangunan ekonomi nasional.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa pemikiran dan kebijakan yang dirintisnya pada akhir 1960-an turut meletakkan fondasi bagi berkembangnya jutaan hektare kebun karet rakyat Indonesia.
Warisan tersebut memang tidak diwujudkan dengan menanam pohon karet secara langsung, melainkan melalui pembangunan sebuah ekosistem ekonomi yang menghubungkan industri, pasar, dan petani dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan.
Pada 1967, ketika menjabat sebagai Menteri Perdagangan, Sumitro melihat bahwa Indonesia menghadapi persoalan serius di sektor karet. Sebagai salah satu produsen karet alam terbesar di dunia, Indonesia masih mengekspor karet dengan mutu yang tidak seragam sehingga nilai jualnya relatif rendah. Sementara itu, Malaysia telah lebih dahulu memperkenalkan Standard Malaysian Rubber (SMR) yang menjadi standar perdagangan internasional. Sumitro memahami bahwa Indonesia tidak akan mampu memenangkan persaingan global apabila terus mengandalkan ekspor bahan mentah tanpa standardisasi mutu dan peningkatan nilai tambah.
Atas dasar pemikiran tersebut, Sumitro mendorong lahirnya Standard Indonesian Rubber (SIR) atau Karet Spesifikasi Teknis Indonesia. Kebijakan ini mengubah orientasi industri karet nasional dari sekadar menjual komoditas mentah menjadi menghasilkan produk yang memenuhi standar industri ban dunia. Sebagai tindak lanjut, pemerintah membentuk Panitia Kerja Crumb Rubber melalui Keputusan Presiden Nomor 293 Tahun 1968 untuk mempercepat pengembangan industri pengolahan karet. Selanjutnya, pada 1971, para pelaku usaha membentuk Persatuan Pengusaha Karet Spesifikasi Teknis Indonesia (PPKSTI) yang kemudian berkembang menjadi GAPKINDO sebagai wadah industri karet spesifikasi teknis nasional.
Perubahan tersebut berlangsung sangat cepat. Pabrik-pabrik crumb rubber mulai berdiri di berbagai sentra produksi karet di Sumatera dan Kalimantan. Indonesia tidak lagi hanya dikenal sebagai pengekspor karet bermutu rendah, tetapi mulai menjadi pemasok utama Standard Indonesian Rubber (SIR) bagi industri otomotif dunia. Kehadiran industri pengolahan tersebut meningkatkan nilai tambah ekspor sekaligus menciptakan permintaan yang jauh lebih stabil terhadap bahan olah karet rakyat (bokar).
Dampak kebijakan tersebut mulai terlihat pada akhir dekade 1970-an. Pada periode 1977–1978, Indonesia memproduksi sekitar 791 ribu ton karet alam per tahun dan mengekspor sekitar 770 ribu ton, atau hampir 20 persen perdagangan karet alam dunia pada saat itu. Industri karet menjadi komoditas ekspor terbesar ketiga Indonesia, menyumbang sekitar 7 persen penerimaan ekspor nasional dan sekitar 6 persen Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian. Sektor ini juga memberikan lapangan kerja penuh bagi sekitar 2 juta orang serta menjadi sumber penghidupan bagi 6–8 juta penduduk Indonesia.
Keberhasilan membangun industri SIR tidak dapat dipisahkan dari filosofi ekonomi yang dianut Sumitro Djojohadikusumo. Bagi Sumitro, industrialisasi bukanlah tujuan akhir pembangunan, melainkan instrumen untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Industri harus menghasilkan nilai tambah, membuka kesempatan kerja, memperluas kepemilikan aset produktif, serta mendorong lahirnya pelaku-pelaku ekonomi baru di kalangan rakyat. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi tidak boleh hanya memperbesar perusahaan atau meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga harus memperkuat posisi masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.

21 hours ago
7



































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5557642/original/085423100_1776349008-IMG_9721.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550379/original/022184300_1775668574-WhatsApp_Image_2026-04-08_at_10.51.36_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517047/original/078921900_1772384976-SaveGram.App_640266969_18393344611150856_335126654579775669_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546845/original/065062000_1775373440-DKW_4291.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5557653/original/008257800_1776350777-20260416IQ_Timnas_Indonesia_U-17_vs_Malaysia_U-17-07.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5255669/original/089095000_1750211606-Persijap-Tunjuk-M--rio-Lemos-sebagai-Pelatih-Kepala-1749715558.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5558668/original/014101500_1776444123-20260417BL_Latihan_Barcelona_Legend_Jelang_Laga_Clash_of_Legends_Vs_DRX_3.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5557643/original/097564000_1776349047-IMG_20260416_201137.jpg.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5182507/original/053806700_1744093142-000_39BE3EX.jpg)