jpnn.com, JAKARTA - Selama lebih dari satu dekade, Rudi (bukan nama sebenarnya) harus datang ke rumah sakit dua kali dalam sepekan untuk menjalani terapi cuci darah atau hemodialisis (HD).
Setiap kunjungan berarti menghadapi antrean panjang, jarum yang kembali menusuk akses pembuluh darahnya, serta waktu kerja yang terpaksa ia tinggalkan.
Sebagai tulang punggung keluarga, ia kerap dihantui kecemasan bahwa kondisi kesehatannya dapat memengaruhi pekerjaan dan penghasilannya.
“Saya pikir memang hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Saat itu, ia mengaku tidak pernah mendapatkan informasi yang cukup mengenai pilihan terapi lain yang sebenarnya tersedia bagi pasien gagal ginjal. Baginya, menjalani terapi HD secara rutin adalah satu-satunya pilihan yang ia pahami saat itu untuk bertahan hidup.
Rudi baru mengetahui tentang terapi Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) setelah berdiskusi dengan sesama pasien di komunitas pasien yang rutin melakukan cuci darah.
Saat itulah ia menyadari ada metode dialisis mandiri yang bisa dilakukan di rumah, dengan kontrol rutin sebulan sekali.
“Kenapa tidak dari dulu saya tahu?” katanya dengan nada menyesal. Kisah Rudi bukan satu-satunya.

2 hours ago
3





















































