jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah membuka ruang opsi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 di atas tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keputusan mengenai penyesuaian defisit APBN akan mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto, mengingat fungsi menteri berperan sebagai pembantu presiden.
"Kalau perintah kan kami jalankan. Saya kan cuma tangan presiden," kata Purbaya, saat dikonfirmasi wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3).
Opsi pelebaran defisit muncul akibat tekanan gejolak geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel, yang mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian global.
Terkait tekanan tersebut, Purbaya menyatakan akan terus menghitung dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN.
Menurut dia, keputusan penyesuaian APBN pun akan berfokus pada potensi risiko itu.
Sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar makroekonomi dengan menghitung setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP) sebesar USD 1 per barel berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp 6,8 triliun.
“Pada asumsi makro APBN 2026, ICP ditetapkan pada level 70 dolar AS per barel,” Purbaya.

1 day ago
13





















































