jpnn.com - Masuknya PT PLN (Persero) ke dalam daftar Fortune Global 500 tahun 2025 adalah tonggak sejarah yang membanggakan. PLN menjadi perusahaan utilitas pertama dari Asia Tenggara yang masuk dalam daftar korporasi terbesar dunia. Hal ini mencerminkan keberhasilan transformasi besar-besaran yang telah dilakukan PLN dalam digitalisasi, efisiensi operasional, dan ekspansi layanan hingga ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Namun, prestasi ini juga membawa beban moral dan tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar. PLN bukan sekadar entitas bisnis, tetapi juga penyelenggara pelayanan publik yang menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Di sinilah tantangan sesungguhnya: menjaga keseimbangan antara tuntutan komersial dan kewajiban public service obligation (PSO).
Ketahanan Energi Adalah Pembangunan Lokal
Ketahanan energi tidak bisa hanya dilihat dari neraca nasional pasokan listrik. Ia ditentukan oleh kemampuan menyediakan energi yang terjangkau, andal, dan merata hingga ke pelosok. Lewat Program Lisdes 2025–2029, PLN menargetkan elektrifikasi bagi lebih dari 780 ribu rumah tangga di 10.000 desa. Ini bukan sekadar proyek infrastruktur—ini adalah investasi sosial, penopang pertumbuhan ekonomi lokal, dan prasyarat naik kelasnya UMKM dan ekonomi pedesaan.
Benchmark Global: Ketahanan Energi Dorong Ekonomi Lokal
Negara-negara lain telah menunjukkan bahwa ketahanan energi yang dirancang bottom-up mampu menjadi pengungkit pembangunan lokal:
• Tiongkok mengembangkan microgrid off-grid di lebih dari 20.000 desa terpencil. Efeknya? Lonjakan produktivitas pertanian dan tumbuhnya industri kecil berbasis energi.
• India melalui program Saubhagya berhasil melistriki lebih dari 28 juta rumah tangga dalam waktu 3 tahun. Proyek ini menurunkan ketimpangan dan meningkatkan pendapatan desa sebesar 30–40%.