Pisau Ibrahim dan Dunia yang Kehilangan Keikhlasan

3 weeks ago 28

Oleh: Zainal Habib

Pisau Ibrahim dan Dunia yang Kehilangan Keikhlasan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Dosen Fillsafat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Foto: source for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Pada suatu pagi yang sunyi dalam sejarah kemanusiaan, Nabi Ibrahim mengangkat pisau ke arah putranya bukan karena kebencian, melainkan karena cinta yang melampaui ego manusia.

Namun dunia modern justru menyaksikan manusia saling “menyembelih” keikhlasan demi citra, konsumsi, dan pengakuan sosial yang tak pernah selesai.

Hari ini, qurban tidak lagi cukup dipahami sebagai ritual tahunan yang selesai di atas altar penyembelihan. Di tengah dunia yang dipenuhi kapitalisme digital, budaya pencitraan, dan kerakusan tanpa batas, qurban justru menjadi pertanyaan filosofis besar: apakah manusia modern masih mampu berkorban dengan ikhlas, atau seluruh hidupnya telah berubah menjadi panggung simulasi?

Qurban dan Krisis Makna di Era Modern

Dalam tradisi Islam, kisah Ibrahim bukan sekadar narasi religius tentang kepatuhan seorang nabi. Ia adalah simbol pergulatan terdalam manusia: antara cinta kepada Tuhan dan keterikatan pada dunia.

Pisau Ibrahim sesungguhnya tidak diarahkan kepada tubuh Ismail, melainkan kepada ego manusia yang selalu ingin memiliki, menguasai, dan mempertahankan segala sesuatu untuk dirinya sendiri.

Karena itu, qurban pada dasarnya adalah tindakan spiritual untuk memotong keterikatan duniawi. Namun ironi besar zaman modern adalah manusia tetap melakukan ritual qurban setiap tahun, tetapi semakin sulit memahami makna keikhlasan di baliknya. Hewan disembelih, daging dibagikan, foto diunggah ke media sosial, tetapi ego justru tumbuhsemakin besar.

Filsuf Muslim Aljazair, Mohammed Arkoun, mengingatkan bahwa qurban harus dibacasecara hermeneutik. Menurutnya, makna harfiah penyembelihan perlu direkontekstualisasiagar tetap relevan dengan tantangan zaman modern. Inti qurban bukan sekadar darah hewan, tetapi pengorbanan terhadap narasi kekuasaan, kekerasan, dan konsumerisme yang menguasai manusia modern.

Dalam tradisi Islam, kisah Ibrahim bukan sekadar narasi religius tentang kepatuhan seorang nabi. Ia adalah simbol pergulatan terdalam manusia

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|