jpnn.com, JAKARTA - Tradisi mudik menjelang Idulfitri 1447 H diproyeksikan akan mencapai puncak mobilitas tertingginya dengan estimasi mencapai 144 juta pergerakan manusia.
Menanggapi fenomena migrasi kolosal ini, DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, pengamat maritim dari IKAL Strategic Center (ISC), menekankan bahwa momentum mudik 2026 harus menjadi titik balik strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan dan jati diri sebagai bangsa maritim sejati.
Adaptasi Budaya Kerja Fleksibel dan Strategi Operasional "Dua Puncak"
Capt. Marcellus menyoroti adanya variabel unik tahun ini, yaitu kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang telah mengubah anatomi mudik secara permanen.
"Tahun ini kita menghadapi fenomena 'dua puncak' arus mudik pada 16 dan 18 Maret. Fleksibilitas kerja memungkinkan masyarakat berangkat lebih awal tanpa menunggu cuti bersama resmi. Dari sisi manajemen trafik, ini adalah kabar baik karena memecah konsentrasi massa, namun di sisi lain menuntut kesiapan armada serta stamina personel lapangan dalam durasi operasional yang jauh lebih panjang dari biasanya," jelasnya.
Keadilan Mobilitas di Indonesia Timur
Capt. Marcellus secara tegas mengingatkan pemerintah untuk memberikan perhatian ekstra pada wilayah Indonesia Timur, di mana laut bukan sekadar pilihan, melainkan urat nadi kehidupan yang absolut.
Data menunjukkan jumlah penumpang di wilayah Pelindo Regional 4 diprediksi mencapai 882.620 orang.

7 hours ago
2




















































