jpnn.com, JAKARTA - Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Bonar Tua Halomoan Marbun menilai besarnya beban menjaga harga BBM tidak dapat dilepaskan dari kondisi industri minyak nasional.
Pasalnya, produksi minyak domestik saat ini masih jauh di bawah kebutuhan nasional.
“Produksi kita hanya sekitar 580 ribu barel per hari, sedangkan kebutuhan dari Sabang sampai Merauke adalah 1,6 juta barel. Jadi, bisa dibayangkan defisitnya sekitar 1 juta barel per hari,” kata Bonar.
Menurut Bonar, kesenjangan antara produksi dan kebutuhan membuat Indonesia harus memenuhi sebagian besar kebutuhan minyak melalui impor.
Kondisi tersebut menyebabkan pemerintah dan Pertamina menghadapi tekanan ganda, yakni tingginya biaya pengadaan sekaligus kebutuhan menjaga harga BBM tetap terjangkau bagi masyarakat.
Dia menyebut tekanan itu semakin besar ketika harga minyak dunia meningkat dan kondisi geopolitik global mengganggu kepastian pasokan.
Pengadaan minyak tidak hanya bergantung pada kemampuan membeli, tetapi juga pada ketersediaan pasokan, waktu pengiriman, kondisi geopolitik, dan berbagai faktor lainnya.
“Dari sisi kondisi saat ini, secara akademis maupun berdasarkan best practice, kebijakan pemerintah tersebut bisa dipahami. Memang merupakan langkah yang relatif pahit, tetapi bisa diterima sebagai kebijakan untuk mengamankan pasokan,” ujar Bonar.

3 hours ago
3

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417976/original/049724300_1763555921-InShot_20251119_193350409.jpg)



