jpnn.com, JAKARTA - Proyek Bali Subway yang telah melakukan groundbreaking pada September 2024 hingga kini terhenti dan belum menunjukkan tanda-tanda kelanjutannya.
Kondisi tersebut telah menarik perhatian anggota DPRD Bali serta masyarakat lokal yang menyampaikan kekecewaannya kepada media-media di Bali, mengingat kemacetan di Bali makin parah sementara status proyek tidak jelas.
Menurut Hamdan Zoelva dari kantor pengacara Zoelva & Partner, mangkraknya proyek berkaitan dengan wanprestasi PT Bumi Indah Prima (BIP), yang dimiliki oleh Budi Arsil dan Anton Subowo.
Sejumlah vendor lokal dan internasional – yang mempekerjakan ratusan pegawai yang mempekerjakan ratusan pegawai – sebenarnya sudah bekerja untuk proyek Bali Subway di bawah hubungan kerja profesional dan arahan dari PT Bumi Indah Prima.
Namun, PT Bumi Indah Prima wanprestasi dengan tidak membayarkan para vendor, menyebabkan pekerjaan harus terhenti.
“Klien kami yang berbasis di Singapura, Samvada Asia, bersama dengan 5 vendor lokal dan internasional lainnya adalah perusahan yang ditunjuk dan sudah diberi instruksi kerja oleh PT BIP untuk melakukan studi data intelligence, menyusun policy framework, uji kelayakan perencanaan sampai mengeksekusi sejumlah pekerjaan penting untuk proyek Bali Subway. Namun setelah Anton Aditya Subowo dan Budi Asril mempekerjakan mereka, PT BIP wanprestasi dan tidak melakukan pembayaran,” ujar Hamdan Zoelva, kuasa hukum dari Samvada Asia dalam keterangan tertulis pada Senin (23/2/2026).
Founder dan Managing Director Samvada, David Nugent menyampaikan pada periode Mei 2024 hingga Juni 2025 pihaknya bersama dengan kelima vendor telah melaksanakan sejumlah pekerjaan atas permintaan Anton Subowo dan Budi Arsil untuk mendukung PT BIP dalam proyek Bali Subway.
Mulai dari mengembangkan Strategic & Political Advisory, Communications Infrastructure, Media & Public Affairs, hingga sistem keamanan digital dengan tingkat sensitivitas yang sangat tinggi. Total nilai kontrak antara Samvada dan PT BIP bersama dengan vendor-vendor lainnya mencapai USD 7,4 juta atau sekitar Rp 125 miliar.

5 hours ago
4





















































