jpnn.com - Timur Tengah tak pernah menjadi kawasan yang tenang. Ia adalah palimpsest sejarah, di mana tinta perjanjian bercampur darah peperangan, dan narasi "Islam versus Barat" terus ditulis ulang dari generasi ke generasi.
Dari Perang Salib yang membekukan dendam selama berabad-abad, hingga deklarasi Balfour yang menjanjikan tanah yang bukan milik pemberi janji; dari keruntuhan Khilafah Utsmaniyah yang meninggalkan kekosongan kekuasaan, hingga kelahiran Israel yang menjadi duri abadi di jantung dunia Arab.
Di tengah pusaran konflik yang tak pernah benar-benar reda itu, Indonesia berdiri di posisi yang paradoksal. Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini berideologi Pancasila, bukan teokrasi.
Politik luar negerinya bebas aktif, namun relasi historisnya dengan Palestina adalah ikatan emosional yang mengkristal menjadi amanat konstitusi. Kini, di tahun 2026, posisi Indonesia sedang diuji. Ujian itu bernama realitas.
Babak Baru Realpolitik
Untuk memahami pilihan-pilihan sulit yang kini dihadapi Jakarta, kita harus jujur membaca peta geopolitik yang sedang digambar ulang di Washington.
Pada November 2025, pemerintahan Donald Trump merilis National Security Strategy (NSS) edisi terbaru. Jika dokumen serupa di era Obama atau Biden masih membungkus kepentingan nasional dengan retorika "tatanan internasional berbasis aturan", NSS 2025 ini berbeda. Ia blak-blakan.
Ia seperti seorang negarawan tua yang lelah bermain kata dan memilih berbicara dalam bahasa kepentingan telanjang.

5 hours ago
1





















































