jpnn.com, JAKARTA - Status tuan rumah tidak lagi berarti bagi Arema FC. Saat derbi panas kontra Persebaya Surabaya, pertandingan dipindahkan ke Bali.
Duel sarat emosi itu dijadwalkan berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Selasa (28/4/2026) sore, tanpa atmosfer khas Kanjuruhan, tanpa suara Aremania.
Bukan sekadar pindah venue, ini adalah luka lama yang belum sembuh. Tragedi Kanjuruhan masih menjadi alasan utama stadion belum bisa dipakai.
Sejak malam kelam yang merenggut ratusan nyawa itu, Arema tidak pernah lagi menjamu Persebaya di rumah sendiri. Ironisnya, setiap kali menjadi tuan rumah, Singo Edan seperti tim musafir.
Lebih pahit lagi, Bali bukan tempat yang ramah. Dua kali menjamu Persebaya di sana, Arema gagal menang, sekali imbang, sekali tumbang. Tren buruk itu semakin melebar, dalam sembilan duel terakhir di liga, Arema tidak pernah sekalipun mengalahkan Bajul Ijo.
Enam kekalahan dan tiga hasil imbang jadi bukti betapa dominasi Persebaya begitu menekan. Kemenangan terakhir Arema atas rivalnya itu sudah terkubur sejak 2018.
Situasi ini membuat laga nanti terasa berat. Tekanan datang dari segala arah, status tuan rumah yang semu, rekor yang menghantui, hingga laga digelar tanpa penonton.
Mental para pemain akan diuji habis-habisan, bukan cuma taktik di lapangan.

2 hours ago
3




















































