jpnn.com, JAKARTA - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno menyampaikan transisi energi berbasis kelapa sawit bukan sekadar alat ketahanan energi.
Dia menegaskan biodiesel sebagai bagian dari posisi strategis Indonesia dalam lanskap ekonomi dan geopolitik global.
Hal itu diungkapkan Havas dalam gelaran 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (17/9).
"Program biodiesel Indonesia bergerak sangat cepat dari B20, B30, B35, B40, dan kini menuju B50," ujar Havas.
Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, mengembalikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi ekonomi nasional, memperkuat penerimaan negara, serta membangun kapabilitas industri domestik.
Havas menggarisbawahi konsep ketahanan energi saat ini telah bergeser.
Dia menyebut jika dahulu ketahanan energi hanya berfokus pada akses pasokan minyak dan gas, kini fokusnya mencakup pembangunan rantai nilai, daya tahan (resilience), penguasaan teknologi, serta kemandirian pemanfaatan sumber daya industri secara bertanggung jawab.
"Posisi Indonesia yang menuntut penerapannya dilakukan secara adil, ilmiah, dan non-diskriminatif," ucap Havas.

57 minutes ago
1





















































