jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam menyebut kenaikan harga BBM nonsubsidi ini tidak bisa dianggap sekadar mekanisme pasar biasa, meski ada guncangan global akibat naiknya harga minyak dunia dan kurs tertekan.
Hal demikian dikatakan Anam menyikapi keputusan pemerintah yang menaikkan harga BBM nonsubsidi.
"Pemerintah tidak boleh berlindung terus di balik alasan itu," kata Anam melalui layanan pesan, Senin (20/4).
Adapun, harga Pertamax Turbo untuk wilayah DKI Jakarta pada 18 April menjadi Rp 19.400 perliter, dari sebelumnya saat 1 April sebesar Rp 13.100 perliter.
Sementara itu, harga Dextlite ditetapkan sebesar Rp 23.600 perliter dari 1 April yang di angka Rp 14.200 perliter.
Anam mengatakan kelas menengah menjadi kelompok yang terdampak dari kebijakan menaikkan BBM nonsubsidi.
"Paling terasa hari ini adalah kelas menengah. Selama ini mereka dianggap kuat, seolah tidak perlu dilindungi, padahal justru mereka yang paling sering menanggung beban, bayar pajak, tidak dapat subsidi, tetapi setiap harga naik, mereka yang pertama kena," ungkap legislator fraksi PDI Perjuangan itu.
Anam mengingatkan pemerintah agar tak menghadirkan perasaan di masyarakat, khususnya kelas menengah, dijadikan sapi perah dari langkah menaikkan BBM nonsubsidi.

4 hours ago
3





















































