PSSI Sedih Rasisme Kembali Menjamur di Sepak Bola Indonesia: Terlalu Gampang Tangan Kita Menulis Tanpa Berpikir

5 hours ago 1

Bola.com, Jakarta - Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, mengaku prihatin dengan kembali maraknya kasus rasisme di sepak bola Indonesia dalam beberapa waktu belakangan.

Terbaru, pemain Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata, dan pesepak bola Persib Bandung, Kakang Rudianto, menjadi korban rasisme secara daring.

Kedua pemain itu membela klub masing-masing ketika Persebaya bermain imbang 2-2 kontra Persib pada 2 Maret 2026 dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026.

Sebelumnya, duo Malut United, Yakob dan Yance Sayuri, juga mendapatkan tindakan rasisme setelah berhadapan dengan Persib Bandung pada 14 Desember 2025.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Sepak Bola Itu Fair Play

Selain itu, pemain Ratchaburi FC, Denilson Junior, juga sempat menjadi sasaran aksi rasisme sesudah melawan Persib Bandung pada laga leg kedua 16 besar AFC Champions League (ACL) Two 2025/2026 di Bandung, 18 Februari 2026.

"Itu yang kita cukup sedih. Sebenarnya di dunia ini sepak bola fair play-nya kuat. Sepak bola itu fair play," ujar Arya.

"Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepak bola. Jadi, sampai kenapa kita terlalu gampang tangan kita untuk menulis ataupun omongan kita terlalu gampang untuk rasis."

"Sebenarnya lucu juga, kita orang Indonesia itu rasis. Karena biasanya justru kita yang terkena rasis, di mana-mana hampir seperti itu," jelas Arya.

Heran Jadi Pelaku Rasis

Arya heran mengapa masyarakat Indonesia justri bersikap rasis, karena biasanya, ia menilai bangsa Indonesia yang kerap menjadi korban diskriminasi.

"Di dunia itu orang di Asia itu lebih sering kena rasisme, tapi sekarang kenapa kita jadi rasis. Jadi, itu jadi pertanyaan yang aneh, kok bisa," tutur Arya.

"Jadi, kita harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepak bola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir."

"Ini gampang sekali kita menulis tanpa berpikir, ini yang saya harap teman-teman PSSI Pers bisa bantu kita untuk memberikan kesadaran itu," ucap tangan kanan Ketua PSSI, Erick Thohir, itu.

Read Entire Article
Koran JPP|