Pengawasan Pemilu di Rezim Dataisme

3 hours ago 3

Oleh: Benny Sabdo - Anggota Bawaslu DKI Jakarta; Mitra Strategis ELSAM tentang Perlindungan Data Pribadi

Pengawasan Pemilu di Rezim Dataisme

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Anggota Bawaslu DKI Jakarta; Mitra Strategis ELSAM tentang Perlindungan Data Pribadi Benny Sabdo. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Dalam diskursus teknologi modern, Yuval Noah Harari mempopulerkan istilah dataisme—sebuah aliran pemikiran yang meyakini alam semesta terdiri dari aliran data.

Nilai dari fenomena apa pun ditentukan oleh kontribusinya pada pemrosesan data.

Dalam konteks elektoral, dataisme bukan lagi sekadar teori, melainkan realitas yang mendefinisikan bagaimana pemilu dimenangkan, sekaligus bagaimana pengawasan pemilu menghadapi tantangan eksistensial.

Ketika algoritma mulai mengambil alih peran kehendak bebas, pengawasan pemilu tidak lagi cukup hanya dilakukan di tempat pemungutan suara.

Kita sedang memasuki era di mana integritas pemilu ditentukan di balik layar-layar pusat data dan kode-kode algoritma. Dahulu, kecurangan pemilu identik dengan mobilisasi massa atau intimidasi fisik.

Hari ini, ancaman bergeser menjadi mikro-targeting berbasis data pribadi. Melalui jejak digital, pemilih dipetakan secara presisi: apa ketakutan mereka, apa preferensi mereka, hingga apa yang dapat memicu kemarahan mereka.

Dalam paradigma dataisme, posisi pemilih mengalami degradasi fundamental dari subjek hukum yang berdaulat menjadi sekadar kumpulan titik data yang rentan terhadap manipulasi sistemik.

Kedaulatan individu yang selama ini menjadi pilar demokrasi kini tereduksi oleh algoritma yang memetakan perilaku, preferensi, hingga kerentanan psikologis pemilih untuk kepentingan elektoral tertentu.

Yuval Noah Harari mempopulerkan istilah dataisme—sebuah aliran pemikiran yang meyakini alam semesta terdiri dari aliran data.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|