Merayakan Lebaran di Meja Makan, Sajian Kebersamaan dan Ramah Bumi

2 hours ago 3

Merayakan Lebaran di Meja Makan, Sajian Kebersamaan dan Ramah Bumi

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Amanda Katili Niode, Ketua Omar Niode Foundation sekaligus editor buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya. Foto: Dok. Pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Lebaran selalu menghadirkan satu momen yang paling dinantikan, berkumpul di meja makan keluarga. Setelah melaksanakan salat Idulfitri, keluarga biasanya kembali ke rumah untuk menikmati hidangan Lebaran bersama. Di situlah percakapan mengalir, tentang pekerjaan, kabar terbaru, hingga rencana masa depan, dalam suasana yang hangat dan penuh tawa.

Tradisi makan bersama pada Hari Raya bukan sekadar kegiatan menikmati hidangan, namun menjadi ruang sosial yang mempertemukan anggota keluarga lintas generasi, sekaligus menghidupkan kembali kenangan yang mungkin jarang hadir di hari-hari biasa.

Menurut Amanda Katili Niode, Ketua Omar Niode Foundation sekaligus editor buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya, makan bersama memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas makan.

“Makan bersama merupakan cerminan perilaku sosial, ekonomi, dan budaya sebuah masyarakat. Seiring waktu, kebiasaan ini berkembang dari sekadar kebutuhan nutrisi menjadi bagian dari identitas kuliner dan gaya hidup,” ungkap Amanda Katili Niode.

Buku tersebut pada akhir tahun lalu dinobatkan sebagai Best Book in the World pada ajang Gourmand World Cookbook Awards, salah satu penghargaan internasional paling bergengsi di bidang buku kuliner.

Adapun di banyak rumah di Indonesia, meja makan Lebaran hampir selalu dihiasi hidangan klasik seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng ati, dan rendang.

Di berbagai daerah, menu tersebut sering dilengkapi dengan kuliner khas setempat seperti Soto Banjar dari Kalimantan Selatan, Selat Solo dari Jawa Tengah, seruit dari Lampung, pallumara dari Sulawesi Selatan, hingga pindang patin dari Palembang.

Ragam hidangan tersebut mencerminkan kekayaan sistem pangan Nusantara yang berkembang dari pengetahuan masyarakat selama berabad-abad.

Menurut Amanda Katili Niode, editor buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya, makan bersama memiliki makna yang jauh lebih luas...

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|