jpnn.com, JAKARTA - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut nilai tukar rupiah berisiko tertahan di titik terlemahnya dan masih terbuka peluang untuk melemah lebih lanjut jika konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel tidak segera mereda.
Pada perdagangan Senin (9/3), rupiah tercatat sempat menyentuh level Rp 16.990 per dolar AS seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia hingga menembus angka 100 dolar AS per barel.
Ia menjelaskan, pergantian kepemimpinan di Iran justru menambah ketidakpastian karena proses suksesi berlangsung di tengah perang, elite Iran sedang terbelah, dan figur yang menguat adalah Mojtaba Khamenei yang dekat dengan Garda Revolusi serta dipandang lebih keras.
“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Pada hari ini, Senin, rupiah sempat menyentuh 16.990 per dolar AS ketika harga minyak menembus 100 dolar AS per barel.
Josua menilai stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sejauh ini cukup penting untuk menahan gejolak agar pelemahan rupiah tidak berlangsung tidak teratur, tetapi belum tentu cukup untuk membalikkan arah selama sumber tekanannya tetap berasal dari perang, lonjakan minyak, dan arus modal global.
Untuk diketahui, BI sebelumnya pada Februari lalu masih menahan suku bunga acuan pada level 4,75 persen dengan fokus utama penguatan stabilisasi rupiah. Bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar dalam negeri dan luar negeri.
“Artinya, kebijakan Bank Indonesia saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” katanya.

2 hours ago
2





















































