jpnn.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupaya mendapatkan tambahan dana lewat pinjaman luar negeri untuk memenuhi kebutuhan anggaran pencegahan bencana.
"Kami berupaya untuk tetap memaksimalkan kemampuan penanggulangan bencana dalam aspek pencegahan atau mitigasi antara lain karena APBN terbatas, kami pun berupaya untuk dapat disetujui mendapat alokasi pinjaman luar negeri," kata Kepala BNPB Suharyanto dalam rapat kerja Menteri Sosial, Kepala BNPB, Kepala BPKH, dan Baznas dengan Komisi VIII DPR RI, di Jakarta, Selasa.
Pasalnya, anggaran pencegahan BNPB relatif terbatas yang berkisar antara Rp 17 miliar hingga Rp 19 miliar per tahun.
"Alhamdulillah dalam lima tahun terakhir ini ada beberapa yang sudah disetujui pinjaman luar negeri ini pun untuk meningkatkan kemampuan BNPB dalam pra bencana atau pencegahan," kata Suharyanto.
Selain itu, BNPB juga memanfaatkan dana siap pakai. Dana siap pakai adalah anggaran untuk BNPB ketika terjadi bencana atau saat status bencana masuk siaga darurat dan tanggap darurat.
"Kadang-kadang bencana ini bukan sesuatu yang baru tetapi kejadian yang berulang. Kadang-kadang berulangnya di daerah yang sama. Sehingga ketika daerah itu sudah terjadi bencana, DSP (Dana Siap Pakai) ini kami memanfaatkan juga untuk membangun pencegahan sebagai persiapan menghadapi kemungkinan bencana di masa depan," kata Suharyanto.
Pihaknya pun bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merumuskan konsep peringatan dini gempa bumi dan tsunami.
Suharyanto menyampaikan bahwa BNPB berhasil memperoleh pinjaman luar negeri sebesar Rp949.168.712.486 yang digunakan untuk membangun pusat pengendalian operasi di 34 provinsi dan 30 kabupaten kota.

6 hours ago
2





















































