jpnn.com, JAKARTA - Harga bahan baku primer industri petrokimia mengalami kenaikan signifikan sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mencatat lonjakan harga mencapai 80 persen per ton dibandingkan periode sebelum konflik.
Fajar memaparkan sebelum ketegangan bersenjata pecah, harga bahan baku primer berada di kisaran USD 1.000 hingga USD 1.100 per ton.
Namun, saat ini harga di pasar global telah menyentuh angka USD 1.700 hingga USD 1.800 per ton.
"Kalau bahan baku, dulu, sebelum perang, kan, sekitar ya 1.000, 1.100. Sekarang sudah 1.700 sampai 1.800 US Dollar per ton rata-rata, untuk bahan baku primer ya," ujar Fajar saat dihubungi, Kamis (26/3).
Menurutnya, tren kenaikan tajam ini mulai terjadi sejak perang di kawasan Timur Tengah memanas pada Februari lalu.
Kendati harga sudah melonjak tinggi, Fajar mengaku belum bisa memprediksi apakah akan ada kenaikan susulan di masa mendatang, mengingat kondisi geopolitik yang masih sangat fluktuatif.
"Belum berani berkomentar kalau itu. Dinamis banget ya," imbuhnya.

9 hours ago
1




















































